Hari ini saya menemukan ada gairah yang sudah telah lama memerah dan menunggu waktu sentuhan untuk membara. Membuat ceita bacaan anak-anak telah lama telah lama aku rencanakan dan akan menjadi warna dalam keseharianku sejak hari ini.
Cerita anak-anak adalah bagian yang penting dalam pendidikan dan tumbuh kembang anak-anak. Mereka belajar banyak hal dari sini seperti berimajinasi, membaca, membuat koneksi antara alam imaji dan alam nyata, mengapresiasi, hidup dan kehidupan di luar lingkungan mereka, dan segudang manfaat lainnya.
Ada kecendrungan yang sangat besar terhadap kesuksesan anak dalam karir belajar mereka bagi anak-anak yang diberikan kesempatan untuk dibacakan dan membaca cerita, seperti dongeng sebelum tidur. Anak yang menikmati dongeng sebelum tidurnya telah mengalami pengajaran literasi jauh sebelum mereka memulai sekolah. Mereka belajar bahwa selain guru mereka ada buku yang bisa mereka jadikan sumber menggali pengetahuan, pengalaman, dan kesenangan. Sedang anak yang kurang terpajang terhadap produk literasi di rumah akan memerlukan waktu cukup lama untuk bisa belajar tanpa guru.
Di Indonesia cerita anak-anak tidak semeriah dan sevariatif seperti di negara-negara yang budaya literasinya maju. Di Australia sebagai contoh, adalah hal yang sangat biasa barisan buku cerita ditemukan di masing-masing kelas. Sedang hal yang sama pada umumnya tidak terlihat di kelas-kelas di Indonesia. Buku lebih sering dipajang di perpustakaan dengan variasi yang tidak terlalu banyak serta lebih didominasi oleh buku teks sekolah. Buku cerita anak-anak dengan ilustrasi berwarna dan spektakuler bahkan tidak mudah ditemukan di perpustakaan-perpustakaan sekolah.
Kelangkaan buku bahan bacaan anak ini bukan kebetulan terjadi atau karena semata-mata rendahnya minat baca anak-anak. Kelangkaan buku ini, saya pikir, terjadi karena salah paham. Orang tua, guru, penulis dan penerbit yang menekuni bidang ini dan pemerintah salah paham terhadap masing-masing mereka dan terhadap posisi buku cerita dalam perkembangan dan pendidikan anak. Bisa dipahami memang jika penulis tidak banyak yang meminati dunia ini karena rupiah mereka ditentukan oleh volume penjualan buku yang mereka tulis. Sedangkan penerbit mencoba berpikir untung sebagaimana perusahaan lain. Jadi wajar jika mereka mencetak dan menerbitkan buku yang potensi untungnya jelas. Orang tua juga salah paham, mereka sering mengira bahwa dengan membeli buku teks sekolah saja kewajiban mereka sudah beres. Toh anak-anak mereka bisa belajar banyak dan megerjakan PR mereka dengan buku teks yang dari sekolah.
Sebagai pendidik, saya ingin memutuskan lingkar salah paham tersebut. Saya akan coba membuat buku cerita buat anak-anak sebanyak-banyaknya. Saya ingin melihat apa yang akan terjadi terhadap anak-anak Indonesia pada umumnya jika mereka memiliki banyak pilihan bacaan di kelas dan di rumah mereka.
Ini judul cerita anak-anak yang melintas di benak saya hari ini, Gemerlap Dalam Kegelapan. Cerita ini akan menggambarkan kehidupan di bagian bumi sebelah utara yang mengalami malam hingga berbulan-bulan. Buku ini akan menggambarkan pada anak-anak bagaimana sekolah, bermain bola, belanja, tidur, dan kegiatan keseharian lainnya dalam kegelapan.
Ide cerita di atas masih kasar. Saya tulis disini supaya tidak hilang dan mudah bagi saya untuk menuliskannya malam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar