Cari Blog Ini

Sabtu, 24 September 2011

Stranger Danger

Terdengar indah karena berirama tapi sesungguhnya maknanya mengerikan. Di Australia para orang tua dikhawatirkan oleh banyaknya kasus penculikan dan upaya penculikan terhadap anak-anak begitu yang ditulis oleh Herald Sun, 3/4/2011. Penculikan terjadi di tempat-tempat dimana anak bersosialisasi dan bermain seperti taman bermain. Penculikan bahkan bisa terjadi di pekarangan rumah mereka sendiri.

Dilihat dari jumlahnya, kasus penculikan juga cukup mengejutkan. Selama periode 2009-2010 kasus penculikan menimpa 89 remaja putri dan 53 remaja putra berumur di bawah 18 tahun. Angka ini meningkat 62 persen dari tahun sebelumnya.

talk
know where your children are playing
don't accept any gift from stranger
don't get into a stranger car
be aware of your surroundings
always accompany your children
scream for help
get to know your neighbour

I am about to talk about the potential dangers Indonesian children might expose to by displaying their photo on social media.

Sabtu, 09 April 2011

Perlakuan Tidak Pantas pada Siswi Akademi Militer Australia

Foto: heraldsun.com.au

Masih ingat Anda pada aib yang menimpa sekolah-sekolah kedinasan milik pemerintah yang diawali oleh terungkapnya kematian Cliff Muntu di tahun 2007? Baru-baru ini Australia Defense Force Academy (ADFA) juga terkena coreng di muka. Adalah keluhan seorang siswa (cadet) perempuan di akademi tersebut pada media yang mempermalukan Kementrian Pertahanan Australia. Siswa perempuan yang belum genap 19 tahun ini mengaku dia kecewa karena keluhannya tidak ditanggapi dengan serius oleh ADFA.

Menurut pengakuan dia, teman laki-lakinya merekam aktivitas hubungan badan mereka melalui kamera web dan diteruskan ke kamar sebelah tempat enam siswa laki-laki lain menonton. Ini terjadi tanpa sepengetahuan dirinya. Selain itu, menurutnya, gambar-gambar dirinya dari video ini juga diambil dan diedarkan.

Setelah ia mengungkapkan ketidaksenangannya kepada media, siswa perempuan ini mengalami kekerasan verbal dari sesama teman siswa akademi. Dia sering kali dipanggil perempuan murahan atau bahkan pelacur.

Puncak gunung es

Skandal seks yang menimpa gadis belia siswa ADFA baru-baru ini bukan yang pertama. Herald Sun menulis bahwa 3 orang perempuan lain menyuarakan pengalaman tidak menyenangkan di Akademi Angkatan Bersenjata Australia.

Salah seorang dari mereka mengaku bahwa ia dilecehkan pada saat dia jadi siswa tingkat pertama di akademi oleh siswa tingkat tiga pada tahun 1989 sedangkan beberapa orang lainnya menontonya dengan membayar sejumlah uang. Sekarang dia tinggal di Victoria dan memiliki empat anak. Dia masih merasa terancam dan secara berkala mencari namanya di Google hawatir ada video dirinya.

Pelecehan kepada siswa perempuan di ADFA juga dilaporkan oleh perempuan dari Brisbane yang menyampaikan kisah pilu pemerkosaan atas keponakan perempuannya waktu dia masih berusia 19 tahun. Sedangkan pacarnya yang juga siswa disana diancam supaya tidak mengungkap peristiwa ini.

Di tahun 2001 pelecehan seksual juga menimpa siswa perempuan lainnya di kapal HMAS Cerberus. Pelecehan seksual ini terjadi waktu dia masih berusia 17 tahun, waktu itu dia siswa tingkat 1. Dia dilecehkan ketika tidak sadarkan diri dan tidak berbusana. Tindakan ini direkam oleh teman siswa akademinya.

Penanganan yang mengecewakan

Menurut para korban pelecehan seksual di Akademi Angkatan Bersenjata ini keluhan mereka tidak pernah mendapatkan respon yang serius dari pimpinan akademi, bahkan salah satu dari mereka mengaku diminta menerima saja saat melapor. Selain itu, ada tekanan kepada mereka untuk menutupi kisah mereka dari pengetahuan publik. Publik Australia menyayangkan penanganan yang tidak serius terhadap predatory sexual behavior di Akademi Angkatan Bersenjata ini.

Selasa, 05 April 2011

Internet Mengancam Karir Calon Serdadu Australia

Di Indonesia sering kali masyarakat dikagetkan oleh tingkah laku pengguna internet yang tidak pantas. Pada tahun 2010 seeorang mahasiswa di Jakarta ditangkap polisi dan dituntut di muka hukum karena menyebarkan foto bugil teman perempuannya. Di tahun yang sama juga beberapa remaja diperiksa polisi karena melakukan penghinaan pada temannya di akun Facebook-nya. Kelalaian prilaku di dunia maya ini juga terjadi di Australia Selalsa 29 Maret lalu dan mengancam karir seorang serdadu.

Herald Sun menulis si serdadu pria mendatangi teman serdadu perempuan untuk melakukan hubungan badan. Tanpa diketahui sang serdadu perempuan, paling tidak menurut pengakuannya, aksi intim mereka di relay oleh teman prianya ke enam serdadu pria dari tiga kesatuan yang berbeda melalui Skype. Tidak hanya itu, gambar-gambar hubungan intim ini masih terus beredar dan menyebabkan si serdadu perempuan minder bergaul dengan teman-temannya.

Kasus ini sedang dalam penyelidikan serius Sekolah Angkatan Bersenjata Australia. Jika si serdadu laki-laki terbukti melanggar kode etik, dia diancam dipecat dari sekolah tersebut.

Minggu, 03 April 2011

Belajarlah Hingga ke Negeri Cina


Salah satu potongan ucapan Muhammad Rosululloh ini telah saya pelajari semenjak kecil. Pada awalnya tidak begitu banyak menimbulkan pertanyaan di benak saya. Namun seiiring pengetahuan geografi saya bertambah, pertanyaan demi pertanyaan muncul. Banyak jawaban yang saya dapatkan atas pertanyaan tersebut dari dua belas tahun duduk di bangku sekolah. Dalam banyak sumber saya menemukan bahwa Cina memiliki sejarah kebudayaan yang panjang dan maju. Mereka adalah orang pertama yang tercatat merekam ide dan ilmu pengetahuan di atas media kertas. Mereka juga mengundang kekaguman banyak orang dengan sejarah militernya dan banyak sisa-sisa peninggalannya yang masih bisa dikagumi, seperti Tembok Besar. Dan beberapa tahun belakangan ini saya juga melihat hal lain yang bangsa lain pantas belajar kepada mereka. Ekonomi mereka mengagumkan sekaligus menimbulkan kehawatiran bagi bangsa lain. Tulisan ini mencoba memperlihatkan kasus kecil bagaimana orang Australia menghadapi orang Cina dan mengambil beberapa pelajaran dari situ.

Australia adalah salah satu negara yang berkomitmen terhadap perdagangan bebas. Mereka banyak memenuhi kebutuhan penduduk negara lain dan juga mempersilahkan negara lain memasukan produk terbaik mereka ke Australia. Sejak hari pertama saya bermain di Aussie, tanda-tanda akan komitmen ini sudah saya rasakan. Saat itu saya perlu converter untuk charger laptop saya dan melihat di toko tempat saya belanja produk lokal dan produk impor, dari Cina diantaranya, harmonis berdampingan. Produk impor terutama dari Cina juga saya temukan katika keluarga tempat saya tinggal meminjamkan pakaian hangat pada saya. Tulisan Made in China tertera pada tag di pakaian tersebut.

Walaupun secara politik pemerintah berkomitmen terhadap pedagangan bebas, namun saya juga menangkap kehawatiran dari penduduk lokal akan membanjirnya produk impor, terutama dari Cina yang murah. Sering kali saya tersenyum melihat beberapa iklan produk lokal yang mencantumkan kalimat ‘It’s good for you, it’s good for Australia’ dengan gambar kanguru kuning dalam segitiga hijaunya. Saya pernah had a bit of a diner chat dengan keluarga tempat saya tinggal dan sang istri di keluarga itu mengakui bahwa sebagai konsumen dia senang karena ada alternatif pilihan yang murah saat belanja. Namun sebagai orang orang tua Aussie yang punya anak, dia hawatir dengan banyak tempat bisnis manufaktur yang terancam keberlangsungannya. Jika mereka sampai tutup karena kalah bersaing dengan produk murah asal Cina, ancaman pengangguran tentunya hal yang nyata.

Tindakan lain yang dilakukan oleh pebisnis lokal juga mengundang senyum kecut saya, teringat para pelaku bisnis di negeri sendiri, hehe. Coles, salah satu retailer besar di negei ini, ternyata memilih tidak menjual produk apel impor asal Cina. Grup menejernya berujar bahwa ini dilakukan sebagai komitmen terhadap keberlangsungan usaha pebisnis lokal.

Pertanian apel telah menjadi bagian warga sini sejak lama. Dulu ada puluhan pebisnis sekala besar dan sekarang tinggal kurang dari sepulu saja, itu data yang saya peroleh dari ABC1. Banyak diantara mereka yang meninggalkan bisnis apel ini karena alasan pembiayaan yang tinggi sedangkan penjualan produk terus menurun. Pengeluaran produksi yang tinggi salah satunya adalah tenaga kerja. Dengan tenaga kerja yang tidak murah pengusaha apel sulit untuk menurunkan harga produk mereka. Ini hal utama yang menyebabkan turunya penjualan karena biasanya apel impor dari Cina lebih murah.

Produk asal cina lebih murah karena ongkos produksi di sana tidak setinggi di Aussie. Pengeluaran untuk gaji di Cina lebih irit sehingga banyak produsen dengan nama-nama besar yang memproduksi barang mereka di Cina. Tapi Cina tidak tinggal diam dan puas hanya jadi ‘kuli di negeri sendiri’ saja, mereka belajar banyak sambil ‘kuli’. Hasilnya, sekarang berbagai produk keperluan hidup dari penitih hingga mesin-mesin besar telah mampu mereka buat sendiri dan tersebar di berbagai negara. Menghasilkan produk pertanian seperti apel dengan kualitas lumayan bukan lagi perkara besar bagi mereka.

Begitulah masarakat sini merespon persaingan. Mereka tetap menjaga kualitas produk mereka supaya tinggi dan pada saat bersamaan berusaha tetap menggunakan produk buatan sendiri untuk menjaga keberlangsungan pelaku bisnis lokal.

Membangun gengsi

Saya senyum lagi sambil menulis tentang ini. Hehe. Saya senyum bukan karena saya belum mandi, atau karena selalu bingung kalau harus membeli sesuatu mengingat harganya jauh dari harga produk yang sama di negeri sendiri, tapi saya senyum mengingat apa yang sering kali saya lihat di negeri sendiri. Saya masih ingat betapa kami bangga sekali saat mengenakan produk impor dan agak minder saat mengenakan produk sendiri. Produk impor, kecuali dari Cina, pada umumnya lebih mahal, sedang produk dalam negeri pada umumnya jauh lebih murah. Di Bandung, kota tempat saya tinggal, ada pabrik sepatu yang sayangnya tidak segera berkembang menyaingi produk impor karena penduduk lokal tidak banyak melirik produk mereka. Sayang sekali.

Saya tidak tahu dengan pasti kenapa kami bangga dengan produk impor. Mungkin kebangga itu muncul karena menggunakan produk yang kualitasnya lebih baik. Saya senang menggunakan produk dengan kualitas baik dan tahan lebih lama. Paling tidak mengurangi jumlah volume sampah dari produk yang sama sehingga mengurangi beban lingkungan hidup. Mungkin itu kali alasannya yah.

Tapi alasan yang lebih jujur adalah gengsi, saya pikir. Sering kali kami tidak memiliki banyak hal yang tersisa pada diri yang bisa dibanggakan. Gengsi adalah satu dari sedikit hal yang kami miliki dan perlu kami pertahankan. Mahal sih emang. Tapi lucunya semakin mahal, gengsinya malahan semakin tinggi dan kebanggaannya semakin besar. Kami di Indonesia sering kali bangga kalau mampu membeli barang mahal, karena tidak semua orang bisa melakukannya. Barang mahal hanya dimiliki oleh mereka yang punya uang lebih. Tidak banyak orang di negeri kami punya uang lebih. Maka kami merasa bangga jika bisa masuk ke dalam kelompok orang yang sedikit itu, merasa eksklusif mungkin.

Tapi kalau dipikir lebih dalam gengsi yang demikian itu hanya milik individu dan tidak menguntungkan secara komunal. Saya pikir kini saatnya kita mendampingkan produk buatan sendiri dengan produk dari luar dengan kebanggaan yang setara. Hal ini bisa dimulai dengan mengutamakan penggunaan produk dalam negeri sehingga uangnya berputar di tangan-tangan bangsa sendiri. Produsen manufaktur dan agrikultur memperoleh uang yang cukup untuk meneliti dan mengembangkan diri dan konsumen bisa memiliki pilihan produk berkualitas lebih banyak lagi. Jika pelaku usaha lokal bisa bertahan dan berkembang, tenaga kerja pun banyak yang tertampung. Tapi ini butuh komitmen tinggi dari pengusaha lokal terhadap jamianan kualitas.

Jumat, 25 Maret 2011

Gemerlap Dalam Kegelapan


Hari ini saya menemukan ada gairah yang sudah telah lama memerah dan menunggu waktu sentuhan untuk membara. Membuat ceita bacaan anak-anak telah lama telah lama aku rencanakan dan akan menjadi warna dalam keseharianku sejak hari ini.

Cerita anak-anak adalah bagian yang penting dalam pendidikan dan tumbuh kembang anak-anak. Mereka belajar banyak hal dari sini seperti berimajinasi, membaca, membuat koneksi antara alam imaji dan alam nyata, mengapresiasi, hidup dan kehidupan di luar lingkungan mereka, dan segudang manfaat lainnya.

Ada kecendrungan yang sangat besar terhadap kesuksesan anak dalam karir belajar mereka bagi anak-anak yang diberikan kesempatan untuk dibacakan dan membaca cerita, seperti dongeng sebelum tidur. Anak yang menikmati dongeng sebelum tidurnya telah mengalami pengajaran literasi jauh sebelum mereka memulai sekolah. Mereka belajar bahwa selain guru mereka ada buku yang bisa mereka jadikan sumber menggali pengetahuan, pengalaman, dan kesenangan. Sedang anak yang kurang terpajang terhadap produk literasi di rumah akan memerlukan waktu cukup lama untuk bisa belajar tanpa guru.

Di Indonesia cerita anak-anak tidak semeriah dan sevariatif seperti di negara-negara yang budaya literasinya maju. Di Australia sebagai contoh, adalah hal yang sangat biasa barisan buku cerita ditemukan di masing-masing kelas. Sedang hal yang sama pada umumnya tidak terlihat di kelas-kelas di Indonesia. Buku lebih sering dipajang di perpustakaan dengan variasi yang tidak terlalu banyak serta lebih didominasi oleh buku teks sekolah. Buku cerita anak-anak dengan ilustrasi berwarna dan spektakuler bahkan tidak mudah ditemukan di perpustakaan-perpustakaan sekolah.

Kelangkaan buku bahan bacaan anak ini bukan kebetulan terjadi atau karena semata-mata rendahnya minat baca anak-anak. Kelangkaan buku ini, saya pikir, terjadi karena salah paham. Orang tua, guru, penulis dan penerbit yang menekuni bidang ini dan pemerintah salah paham terhadap masing-masing mereka dan terhadap posisi buku cerita dalam perkembangan dan pendidikan anak. Bisa dipahami memang jika penulis tidak banyak yang meminati dunia ini karena rupiah mereka ditentukan oleh volume penjualan buku yang mereka tulis. Sedangkan penerbit mencoba berpikir untung sebagaimana perusahaan lain. Jadi wajar jika mereka mencetak dan menerbitkan buku yang potensi untungnya jelas. Orang tua juga salah paham, mereka sering mengira bahwa dengan membeli buku teks sekolah saja kewajiban mereka sudah beres. Toh anak-anak mereka bisa belajar banyak dan megerjakan PR mereka dengan buku teks yang dari sekolah.

Sebagai pendidik, saya ingin memutuskan lingkar salah paham tersebut. Saya akan coba membuat buku cerita buat anak-anak sebanyak-banyaknya. Saya ingin melihat apa yang akan terjadi terhadap anak-anak Indonesia pada umumnya jika mereka memiliki banyak pilihan bacaan di kelas dan di rumah mereka.

Ini judul cerita anak-anak yang melintas di benak saya hari ini, Gemerlap Dalam Kegelapan. Cerita ini akan menggambarkan kehidupan di bagian bumi sebelah utara yang mengalami malam hingga berbulan-bulan. Buku ini akan menggambarkan pada anak-anak bagaimana sekolah, bermain bola, belanja, tidur, dan kegiatan keseharian lainnya dalam kegelapan.

Ide cerita di atas masih kasar. Saya tulis disini supaya tidak hilang dan mudah bagi saya untuk menuliskannya malam ini.

Senin, 07 Februari 2011

Sedikit Pemandangan Pantai

Lokasi : Torquay Foreshore Reserve
16.32 waktu lokal

Lokasi : Torquay Foreshore Reserve
16.24 waktu lokal

Minggu, 06 Februari 2011

Sebuah Catatan

Lokasi: Cunningham Pier, Geelong, Victoria
11 am


Oleh Anwar Sadad

Aku adalah moving force itu.

Akulah changing tide itu.

Biarlah aku dibenci

tapi karyaku dinanti.

Seandainya gunung itu tantangannya,

aku rela simpan semua senyuman ini hingga puncak.

Kau ajak aku menjauh sambil menakutiku dengan duri-duri.

Aku menolak untuk tunduk seraya setia untuk terus mendekat

Bagiku tidak ada yang lebih berat dari lari dan mendustakan tajamnya bebatuan

kemudian menipu diri dengan halusnya jalan yang membawaku menjauh

dari harapan dan cita-cita

Kepalaku memang keras dan aku terus berlatih menjadikannya semakin keras.

Aku hargai semua ide dan pandangan mu tentang wanginya bunga, birunya langit, dan dalamnya lautan.

Tapi aku manusia bebas

memiliki kepala yang keras

aku tatap semua sudut bumi dengan tajam

aku dapat mendengar desiran angin.

Maka jangan kau halangi aku untuk terbang dan menunjukan kebebasanku. Aku tak akan pernah tunduk.

Aku akan bangun lagi esok hari lebih kuat lagi.

Kau yang Rindu Kutemui

Lokasi: Cunningham Piere, Geelong, Victoria
10.30 am


Kau yang rindu ku temui

Kau menunggu di sebuah titik waktu.

Tunggu aku sedang berjalan menghampiri mu

dengan susah payah

duri, lumpur, janji, cela, dan gengsi menyatu merintangi aku.

Jangan hawatir

kau kan ku temui di sebuah titik waktu.

Sungguh telah ku cium aroma keringatku memapahmu berjalan.

Bahkan saat ini telah ku rasa lelahnya badan ini menjagamu sejak hari itu.

Tapi aku tak peduli.

Asal engkau tahu.

Aku telah berlatih debus,

kupelajari ilmu tentang lumpur,

aku tunaikan janji-janji sejak hari ini biar tak seorang pun yang datang menagih di hari itu,

aku pelajari banyak trik menebalkan kulit muka ini,

hingga makian dan celaan itu hanyalah nyanyian pengantar tidur.

Minggu, 30 Januari 2011

Catatan dari Melbourne 1



Lokasi: Flinders Street Station

Ini pertama kali kedua kakiku ku injakan di luar Indonesia. Tempat baru ini begitu sederhana beda dengan tanah asalku yang kompleks. Sederhana sekali. Sebagaimana aku akan pergi ke suatu tempat maka aku tinggal melihat peta yang didapat di pusat informasi kota. Sederhana sekali. Tinggal beli tiket yang nilainya beragam sesuai dengan luas area jangkauan dan frekuensi penggunaan. Sederhana sekali. Aku tinggal berdiri di tempat pemberhentian maka beberapa menit kemudian city tram datang menjemput dan aku tinggal menggunakan tiket yang dibeli. Sederhana sekali. Aku sebenarnya bisa masuk tram tanpa tiket itu dan tidak perlu takut ada yang menendang keluar. Itu tidak akan ada. Namun aku malu kalau harus menghianati nurani dan jati diriku sebagai seorang yang lahir dari bangsa yang besar namun berani bertindak kerdil. Begitulah kesederhanaan di tempat baru ini dan aku mulai menikmati dan menyenangi kesederhanaan ini.

Tiket yang aku ceritakan di atas adalah representasi dari semangat kesederhanaan. Ia yang timbul dari cita-cita yang sederhana - memberikan kenyamanan bagi mereka yang berhak menerimanya. Mengingat begitu pentingnya peran tiket di tempat yang sederhana ini, aku pun dengan sederhana siap mengantri membeli beberapa lembar untuk tiga hari kedepan.

Lumayan sih AUS$ 20.4 untuk tiga tiket.

Di tulisan-tulisan selanjutnya aku ingin berbagi tentang banyak hal yang aku lihat dan rasa yang mungkin relevan dengan Anda. Jadi jangan ragu mampir ke sini.