Napak Tilas
Cari Blog Ini
Senin, 13 Oktober 2014
Kelauarga Adalah Tim yang Padu
Sabtu, 24 September 2011
Stranger Danger
Dilihat dari jumlahnya, kasus penculikan juga cukup mengejutkan. Selama periode 2009-2010 kasus penculikan menimpa 89 remaja putri dan 53 remaja putra berumur di bawah 18 tahun. Angka ini meningkat 62 persen dari tahun sebelumnya.
talk
know where your children are playing
don't accept any gift from stranger
don't get into a stranger car
be aware of your surroundings
always accompany your children
scream for help
get to know your neighbour
I am about to talk about the potential dangers Indonesian children might expose to by displaying their photo on social media.
Sabtu, 09 April 2011
Perlakuan Tidak Pantas pada Siswi Akademi Militer Australia
Masih ingat Anda pada aib yang menimpa sekolah-sekolah kedinasan milik pemerintah yang diawali oleh terungkapnya kematian Cliff Muntu di tahun 2007? Baru-baru ini Australia Defense Force Academy (ADFA) juga terkena coreng di muka. Adalah keluhan seorang siswa (cadet) perempuan di akademi tersebut pada media yang mempermalukan Kementrian Pertahanan Australia. Siswa perempuan yang belum genap 19 tahun ini mengaku dia kecewa karena keluhannya tidak ditanggapi dengan serius oleh ADFA.
Menurut pengakuan dia, teman laki-lakinya merekam aktivitas hubungan badan mereka melalui kamera web dan diteruskan ke kamar sebelah tempat enam siswa laki-laki lain menonton. Ini terjadi tanpa sepengetahuan dirinya. Selain itu, menurutnya, gambar-gambar dirinya dari video ini juga diambil dan diedarkan.
Setelah ia mengungkapkan ketidaksenangannya kepada media, siswa perempuan ini mengalami kekerasan verbal dari sesama teman siswa akademi. Dia sering kali dipanggil perempuan murahan atau bahkan pelacur.
Puncak gunung es
Skandal seks yang menimpa gadis belia siswa ADFA baru-baru ini bukan yang pertama. Herald Sun menulis bahwa 3 orang perempuan lain menyuarakan pengalaman tidak menyenangkan di Akademi Angkatan Bersenjata Australia.
Salah seorang dari mereka mengaku bahwa ia dilecehkan pada saat dia jadi siswa tingkat pertama di akademi oleh siswa tingkat tiga pada tahun 1989 sedangkan beberapa orang lainnya menontonya dengan membayar sejumlah uang. Sekarang dia tinggal di Victoria dan memiliki empat anak. Dia masih merasa terancam dan secara berkala mencari namanya di Google hawatir ada video dirinya.
Pelecehan kepada siswa perempuan di ADFA juga dilaporkan oleh perempuan dari Brisbane yang menyampaikan kisah pilu pemerkosaan atas keponakan perempuannya waktu dia masih berusia 19 tahun. Sedangkan pacarnya yang juga siswa disana diancam supaya tidak mengungkap peristiwa ini.
Di tahun 2001 pelecehan seksual juga menimpa siswa perempuan lainnya di kapal HMAS Cerberus. Pelecehan seksual ini terjadi waktu dia masih berusia 17 tahun, waktu itu dia siswa tingkat 1. Dia dilecehkan ketika tidak sadarkan diri dan tidak berbusana. Tindakan ini direkam oleh teman siswa akademinya.
Penanganan yang mengecewakan
Menurut para korban pelecehan seksual di Akademi Angkatan Bersenjata ini keluhan mereka tidak pernah mendapatkan respon yang serius dari pimpinan akademi, bahkan salah satu dari mereka mengaku diminta menerima saja saat melapor. Selain itu, ada tekanan kepada mereka untuk menutupi kisah mereka dari pengetahuan publik. Publik Australia menyayangkan penanganan yang tidak serius terhadap predatory sexual behavior di Akademi Angkatan Bersenjata ini.
Selasa, 05 April 2011
Internet Mengancam Karir Calon Serdadu Australia
Herald Sun menulis si serdadu pria mendatangi teman serdadu perempuan untuk melakukan hubungan badan. Tanpa diketahui sang serdadu perempuan, paling tidak menurut pengakuannya, aksi intim mereka di relay oleh teman prianya ke enam serdadu pria dari tiga kesatuan yang berbeda melalui Skype. Tidak hanya itu, gambar-gambar hubungan intim ini masih terus beredar dan menyebabkan si serdadu perempuan minder bergaul dengan teman-temannya.
Kasus ini sedang dalam penyelidikan serius Sekolah Angkatan Bersenjata Australia. Jika si serdadu laki-laki terbukti melanggar kode etik, dia diancam dipecat dari sekolah tersebut.
Minggu, 03 April 2011
Belajarlah Hingga ke Negeri Cina
Salah satu potongan ucapan Muhammad Rosululloh ini telah saya pelajari semenjak kecil. Pada awalnya tidak begitu banyak menimbulkan pertanyaan di benak saya. Namun seiiring pengetahuan geografi saya bertambah, pertanyaan demi pertanyaan muncul. Banyak jawaban yang saya dapatkan atas pertanyaan tersebut dari dua belas tahun duduk di bangku sekolah. Dalam banyak sumber saya menemukan bahwa Cina memiliki sejarah kebudayaan yang panjang dan maju. Mereka adalah orang pertama yang tercatat merekam ide dan ilmu pengetahuan di atas media kertas. Mereka juga mengundang kekaguman banyak orang dengan sejarah militernya dan banyak sisa-sisa peninggalannya yang masih bisa dikagumi, seperti Tembok Besar. Dan beberapa tahun belakangan ini saya juga melihat hal lain yang bangsa lain pantas belajar kepada mereka. Ekonomi mereka mengagumkan sekaligus menimbulkan kehawatiran bagi bangsa lain. Tulisan ini mencoba memperlihatkan kasus kecil bagaimana orang Australia menghadapi orang Cina dan mengambil beberapa pelajaran dari situ.
Australia adalah salah satu negara yang berkomitmen terhadap perdagangan bebas. Mereka banyak memenuhi kebutuhan penduduk negara lain dan juga mempersilahkan negara lain memasukan produk terbaik mereka ke Australia. Sejak hari pertama saya bermain di Aussie, tanda-tanda akan komitmen ini sudah saya rasakan. Saat itu saya perlu converter untuk charger laptop saya dan melihat di toko tempat saya belanja produk lokal dan produk impor, dari Cina diantaranya, harmonis berdampingan. Produk impor terutama dari Cina juga saya temukan katika keluarga tempat saya tinggal meminjamkan pakaian hangat pada saya. Tulisan Made in China tertera pada tag di pakaian tersebut.
Walaupun secara politik pemerintah berkomitmen terhadap pedagangan bebas, namun saya juga menangkap kehawatiran dari penduduk lokal akan membanjirnya produk impor, terutama dari Cina yang murah. Sering kali saya tersenyum melihat beberapa iklan produk lokal yang mencantumkan kalimat ‘It’s good for you, it’s good for Australia’ dengan gambar kanguru kuning dalam segitiga hijaunya. Saya pernah had a bit of a diner chat dengan keluarga tempat saya tinggal dan sang istri di keluarga itu mengakui bahwa sebagai konsumen dia senang karena ada alternatif pilihan yang murah saat belanja. Namun sebagai orang orang tua Aussie yang punya anak, dia hawatir dengan banyak tempat bisnis manufaktur yang terancam keberlangsungannya. Jika mereka sampai tutup karena kalah bersaing dengan produk murah asal Cina, ancaman pengangguran tentunya hal yang nyata.
Tindakan lain yang dilakukan oleh pebisnis lokal juga mengundang senyum kecut saya, teringat para pelaku bisnis di negeri sendiri, hehe. Coles, salah satu retailer besar di negei ini, ternyata memilih tidak menjual produk apel impor asal Cina. Grup menejernya berujar bahwa ini dilakukan sebagai komitmen terhadap keberlangsungan usaha pebisnis lokal.
Pertanian apel telah menjadi bagian warga sini sejak lama. Dulu ada puluhan pebisnis sekala besar dan sekarang tinggal kurang dari sepulu saja, itu data yang saya peroleh dari ABC1. Banyak diantara mereka yang meninggalkan bisnis apel ini karena alasan pembiayaan yang tinggi sedangkan penjualan produk terus menurun. Pengeluaran produksi yang tinggi salah satunya adalah tenaga kerja. Dengan tenaga kerja yang tidak murah pengusaha apel sulit untuk menurunkan harga produk mereka. Ini hal utama yang menyebabkan turunya penjualan karena biasanya apel impor dari Cina lebih murah.
Produk asal cina lebih murah karena ongkos produksi di sana tidak setinggi di Aussie. Pengeluaran untuk gaji di Cina lebih irit sehingga banyak produsen dengan nama-nama besar yang memproduksi barang mereka di Cina. Tapi Cina tidak tinggal diam dan puas hanya jadi ‘kuli di negeri sendiri’ saja, mereka belajar banyak sambil ‘kuli’. Hasilnya, sekarang berbagai produk keperluan hidup dari penitih hingga mesin-mesin besar telah mampu mereka buat sendiri dan tersebar di berbagai negara. Menghasilkan produk pertanian seperti apel dengan kualitas lumayan bukan lagi perkara besar bagi mereka.
Begitulah masarakat sini merespon persaingan. Mereka tetap menjaga kualitas produk mereka supaya tinggi dan pada saat bersamaan berusaha tetap menggunakan produk buatan sendiri untuk menjaga keberlangsungan pelaku bisnis lokal.
Membangun gengsi
Saya senyum lagi sambil menulis tentang ini. Hehe. Saya senyum bukan karena saya belum mandi, atau karena selalu bingung kalau harus membeli sesuatu mengingat harganya jauh dari harga produk yang sama di negeri sendiri, tapi saya senyum mengingat apa yang sering kali saya lihat di negeri sendiri. Saya masih ingat betapa kami bangga sekali saat mengenakan produk impor dan agak minder saat mengenakan produk sendiri. Produk impor, kecuali dari Cina, pada umumnya lebih mahal, sedang produk dalam negeri pada umumnya jauh lebih murah. Di Bandung, kota tempat saya tinggal, ada pabrik sepatu yang sayangnya tidak segera berkembang menyaingi produk impor karena penduduk lokal tidak banyak melirik produk mereka. Sayang sekali.
Saya tidak tahu dengan pasti kenapa kami bangga dengan produk impor. Mungkin kebangga itu muncul karena menggunakan produk yang kualitasnya lebih baik. Saya senang menggunakan produk dengan kualitas baik dan tahan lebih lama. Paling tidak mengurangi jumlah volume sampah dari produk yang sama sehingga mengurangi beban lingkungan hidup. Mungkin itu kali alasannya yah.
Tapi alasan yang lebih jujur adalah gengsi, saya pikir. Sering kali kami tidak memiliki banyak hal yang tersisa pada diri yang bisa dibanggakan. Gengsi adalah satu dari sedikit hal yang kami miliki dan perlu kami pertahankan. Mahal sih emang. Tapi lucunya semakin mahal, gengsinya malahan semakin tinggi dan kebanggaannya semakin besar. Kami di Indonesia sering kali bangga kalau mampu membeli barang mahal, karena tidak semua orang bisa melakukannya. Barang mahal hanya dimiliki oleh mereka yang punya uang lebih. Tidak banyak orang di negeri kami punya uang lebih. Maka kami merasa bangga jika bisa masuk ke dalam kelompok orang yang sedikit itu, merasa eksklusif mungkin.
Tapi kalau dipikir lebih dalam gengsi yang demikian itu hanya milik individu dan tidak menguntungkan secara komunal. Saya pikir kini saatnya kita mendampingkan produk buatan sendiri dengan produk dari luar dengan kebanggaan yang setara. Hal ini bisa dimulai dengan mengutamakan penggunaan produk dalam negeri sehingga uangnya berputar di tangan-tangan bangsa sendiri. Produsen manufaktur dan agrikultur memperoleh uang yang cukup untuk meneliti dan mengembangkan diri dan konsumen bisa memiliki pilihan produk berkualitas lebih banyak lagi. Jika pelaku usaha lokal bisa bertahan dan berkembang, tenaga kerja pun banyak yang tertampung. Tapi ini butuh komitmen tinggi dari pengusaha lokal terhadap jamianan kualitas.
